Selasa, 03 April 2012

Mendidik Calon Pemimpin Bangsa yang Amanah


Mendidik Calon Pemimpin Bangsa yang Amanah

15-Sep-2011 oleh     Tidak ada Komentar    Posting didalam : Naskah, Tahun 2010

Oleh: Yulianto Wijaya, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang  (UNNES).
(Pendekatan Pendidikan Karakter Melalui Metode Budaya Tradisional Terintegrasi Dengan Gerakan Pramuka).
Dewasa ini sering kita dengar kasus yang berkaitan dengan masalah degradasi moral para pemimpin negeri ini. Para politikus baik dari kelas teri hingga kelas kakap saling berlomba-lomba untuk meraup keuntungan masing-masing. Dari kopral hingga jenderal berbintang, semuanya berlomba untuk meraup keuntungan pribadi. Kasus korupsi terus merajalela di negara yang bangga dengan semangat kebhinekaannya ini. Dari korupsi waktu, uang, materi, hingga pembohongan public mereka lakukan demi memakmurkan pribadi dan golongan sendiri. Tak jarang rakyat kecil yang menjadi korban, tak jarang mereka yang kaya semakin kaya, dan rakyat yang miskin bertambah sengsara.
Sebenarnya apa yang salah pada negara kita? Negara yang semenjak era kerajaan berabad-abad lalu dikenal sebagai bangsa yang ramah-tamah, sebagai bumi yang gemah ripah loh jinawi, sebagai negara yang memiliki kekayaan tambang yang melimpah, dan kaya akan iklim yang tropis, bahkan tak jarang kita dengar hutan-hutan di Indonesia terutama yang tersebar di kepulauan Sumatera, Kalimantan, ataupun Papua sebagai hutan dengan kekayaan plasma nutfah terlengkap di seluruh dunia. Namun kenapa dengan segala potensi yang melimpah itu kita masih saja disebut sebagai negara berkembang, yang tak tahu mau dibawa kemana arah perkembangannya ini, sebenarnya apa yang kurang dari negara kita? Kepemimpinan yang penuh moral dan tanggung jawab, itulah yang kita butuhkan. Sebab pemimpin adalah pemegang kemudi laju pertumbuhan negara kita. Sebab pemimpin ibarat nahkoda yang melayarkan “kapal” pemerintahan negeri ini, yang menentukan perkembangan negara ini mengalami pasang atau surut, tapi bila pemimpinnya tidak amanah, maka tak ayal kapal pemerintahan negeri ini akan karam di terjang gelombang globalisasi.
Bila kita tilik dalam mekanisme pemilihan para pemimpin kita, maka terkadang kita bertanya-tanya, benarkah mekanisme sistem pemilihan yang berazaskan LUBER JURDIL ini telah tepat? Marilah kita tengok pada sebuah contoh kecil pemilihan pemimpin di sebuah desa (kepala desa). Seorang calon kepala desa biasanya menggunakan uang pribadi untuk berkampanye meraih simpati masyarakat sasaran. Bahkan tidak jarang mereka menerima “sumbangan” dari para donatur yang tentunya setelah ia terpilih sebagai pemimpin diharapkan ada mekanisme “balas jasa” pada pihak-pihak donator tersebut. Tak jarang pula kita dengar dan bahkan sudah menjadi rahasia umum bila sistem kampanye uang masih dianggap ampuh. Padahal bila kita tilik dari pendapatan maksimal seorang kepala desa selama satu periode kepemimpinannya (lima tahun) tidak akan cukup untuk menutup “modal” yang dikeluarkannya untuk mendapatkan jabatan tersebut. Jadi pasti selama kinerjanya dalam lima tahun, pasti ibarat orang pedagang sang kepala desa ini akan mencari cara agar bias menutup modal yang dikeluarkan untuk menjadi kepala desa, jadi “kesepakatan” tidak bertanggung jawab pasti akan dilakukan untuk mengembalikan modal atau bahkan untuk mencari untung. Jadi pada pemimpin yang seperti ini, KORUPSI akan menjadi pilihan alternatif yang akan senantiasa dicoba untuk dilakukan. Sudah menjadi rahasia umum bila kasus seperti diatas tidak hanya terjadi pada pemimpin tingkat bawah saja tapi juga pada tingkat diatasnya. Sehingga marilah kita renungkan bersama, bila para pemimpin disibukkan untuk mencari keuntungan pribadi semata maka bagaimana mungkin mereka bias maksimal membela rakyat? Jadi sebenarnya bagaimana cara yang tepat untuk memilih pemimpin yang bertanggung jawab dan amanah?
Seorang pemimpin adalah seorang yang memang di didik sejak dini untuk menjadi pemimpin. Karena pada dasarnya keinginan memimpin dan untuk tampil dimuka umum adalah keinginan hakiki setiap manusia. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang punya kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka penulis mengajukan sebuah terobosan baru dengan menggabungkan segala unsur yang ada di masyarakat untuk menghasilkan calon pemimpin yang amanah. Sebab pada dasarnya negara kita ini tidaklah kekurangan orang pintar dan cerdas, hal ini terlihat dari banyaknya orang yang bergelar professor, doctor, master, megister, ataupun sarjana. Tapi mengapa negara kita tetap tidak lebih baik, padal kita ibarat berdiri diatas berlian. Terobosan yang penulis tawarkan adalah konsep pembentukan karakter calon pemimpin dengan metode budaya tradisional terintegrasi dengan gerakan pramuka.
Metode ini adalah gabungan antara permainan tradisional dengan pembelajaran kepemimpinan dalam gerakan pramuka. Jadi disini metode ini diharapkan dilakukan bertahap. Tahap pertama adalah anak usia prasekolah (usia < 5 tahun), pada tahap ini metode pelatihan kepemimpinan yang dilakukan adalah dengan permainan betengan. Permainan ini adalah salah satu jenis permainan tradisional. Permainan ini dilakukan dengan cara membagi para pemain dalam dua kelompok. Yang mana pada satu kelompok biasanya terdiri 4 sampai 10 orang yang mana 1 orang dijadikan sebagai pemimpin, dan yang lain sebagai anak buah. Masing-masing kelompok memiliki beteng (biasanya terbuat dari sepotong bampu setinggi 2 meter yang ditancapkan) masing-masing. Jarak antar beteng biasanya 3 sampai 5 meter. Beteng ini berfungsi sebagai markas, jadi kelompok mana yang anggotanya paling banyak bisa menyentuh beteng lawannya dikatakan sebagai pemenang. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam upaya menyentuh beteng ini seorang pemain harus dihadapkan satu lawan satu (yang biasanya disertai dengan adegan kejar-kejaran), dan bila sampai tertangkap maka ia akan “dipenjara”, selanjutnya pihak pemimpinnya akan berusaha menebus anak  buahnya sesuai dengan permintaan pihak lawan, disinilah strategi dan kejujuran serta kekompakkan dibutuhkan untuk menjadi kelompok pemenang. Jadi inti dari permainan diatas diharapkan dapat melatih ketangkasan, intuisi, kejujuran, serta kekompakkan dalam suatu kelompok sehingga permainan yang dilakukan ini dapat merangsang jiwa kepimpinan anak-anak sejak dini.
Tahap yang kedua adalah tahap usia sekolah (sejak SD hingga SMA). Disinipun sebenarnya dapat kita bedakan lagi dalam dua tahapan, yakni tahap usia bermain (SD) dan usia remaja-dewasa (SMP-SMA). Pada tahap usia bermain ini selain dibekali dengan materi pramuka di sekolah yang mengajarkan cara menjadi pemimpin yang baik, berjiwa kesatria, suka menolong, dan dapat dipercaya anak-anak juga masih bisa bermain selepas masa belajarnya, dan permainan pada tahap sebelumnya sangatlah dianjurkan guna mendukung pemaksimalan pemahaman dalam pengembangan pribadinya. Sedangkan pada tahap remajadewasa, dimana pada tahap ini mereka sudah merasa tidak pantas lagi bermain seperti pada tahap pertama, jadi diharapkan pendidikan pramuka lebih dapat mendominasi agar remajaremaja ini memiliki aktifitas yang mendidik. Pramuka diharapkan mampu mengarahkan calon pemimpin ini menemukan jati dirinya, dengan di dukung oleh agama, lingkungan, akademik, dan partisipasi orang-orang terdekat diharapkan mampu menjadi bekal dalam memasuki tahap selanjutnya (jenjang perkuliahan) dimana mereka calon permimpin ini mencari bekal hidup dan diharapkan setelah adanya tahapan-tahapan sebelumnya yang tersistem dapat menghasilkan karakter yang kuat dalam menjadi pemimpin yang amanah.
Apa yang penulis kemukakan diatas adalah contoh sederhana sebuah metode yang dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi-potensi yang ada. Namun dengan potensipotensi yang biasanya dianggap sederhana dan kadang dilupakan ini diharapkan dapat mendongkrak sebuah pembentukan karakter calon pemimpin yang amanah. Sebab negara ini adalah negara yang kaya, negara yang banya memiliki sumber daya alam baik yang tersebar di darat di laut ataupun yang tersimpsn dalam perut bumi yang menunggu diolah dan dimanfattkan. Negara ini pun bukan negara yang kekurangan orang cerdas, sebutlah B.J Habibie tokoh Indonesia yang kecerdasannya telah diakui dunia, serta masih banyak potensi dari putra-putri daerah yang cerdas yang siap untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan negara ini. Namun diharapkan dengan metode yang sederhana ini dapat membentuk insaninsan bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki moral yang baik. Sehingga pembangunan negeri ini dapat mencapai sebuah titik puncaknya, tidak lagi dikenal sebagai negara berkembang tapi dapat dikenal pula sebagai negara yang maju, tidak lagi dinenal sebagai negara yang miskin, tapi dikenal sebagai negara yang kaya. Wahai negaraku,tetaplah jaya dalam kepemimpinan putra-putri terbaikmu. Akhir kata semoga bangsa ini kembali dapat menunjukkan “taringnya” sebagai Macan Asia lewat kinerja pemimpinnya yang amanah dan bermoral. “……….Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa.”
Biodata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar